Tentang Event

A.      Latar Belakang

Pada tanggal 16 Januari 2017, Pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral  (ESDM) Nomor 8 Tahun 2017 tentang Kontrak Bagi Hasil Gross Split. Peraturan ini diharapkan menjadi terobosan untuk memperbaiki iklim investasi di sektor hulu migas yang saat ini menghadapi tantangan terkait penurunan harga minyak dunia dengan harga yang masih berkisar di USD 50 per barrel. Penerapan gross-split diyakini dapat mengurangi birokrasi sehingga dapat memotong waktu komersialisasi yang diharapkan dapat menarik para investor untuk berinvestasi. Dengan diterapkannya kebijakan ini juga diharapkan dapat meningkatkan efisiensi bisnis sektor eksplorasi dan produksi migas.

Dari sisi Pemerintah, kebijakan gross split diharapkan mampu mengurangi risiko bisnis serta menekan anggaran dari biaya cost recovery sehingga bagian negara dari industri Minyak dan Gas (migas) dapat meningkat.

Dalam kaitannya dengan penerapan Gross Split ini, pengelolaan rantai suplai sepenuhnya diserahkan kepada Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS). Dinamika pengelolaan kebutuhan spesifikasi proyek dan pengadaan (tender) dengan memprioritaskan industri manufaktur dan jasa terintegrasi dalam negeri menjadi peluang bagi KKKS karena selain dapat menekan biaya, juga berpeluang mendapatkan insentif tambahan gross split dari Pemerintah.

Untuk merespons situasi ini, IAFMI sebagai entitas profesional dalam fasilitas produksi migas Indonesia menggelar acara CEO Talk dengan tema “Peluang Industri Nasional Penunjang Migas dalam Penerapan Skema Gross Split pada bulan November 2017.

CEO Talk ini merupakan kegiatan reguler IAFMI dan kali ini merupakan CEO Talk yang ke-4. Seperti pada event sebelumnya, CEO Talk IAFMI akan melibatkan pimpinan dan manajemen perusahaan atau lembaga yang bergerak di bidang industri fasilitas produksi migas.

B.      Fokus Pembahasan

Permasalahan yang mengemuka dan dibahas secara lebih lanjut dalam CEO Talk adalah sebagai barikut:

  • Bagaimana penerapan skema gross split akan memberikan dampak positif dan menstimulus pergerakan investasi industri serta memberikan multiplier effect yang luas termasuk kepada industri penunjang migas.
  • Berbagai tantangan yang dihadapi Industri Nasional dan KKKS terkait penerapan aturan gross split.
  • Berbagai peluang yang bisa diciptakan dalam kaitannya dengan strategi pengelolaan rantai suplai secara mandiri oleh KKKS.
  • Berbagai inovasi dan terobosan bisnis yang diperlukan oleh Industri Manufaktur dan Penyedia Jasa Terintegrasi (EPCI) Migas Nasional untuk dapat bertahan dan menunjang penerapan gross split tanpa mengorbankan kualitas dan faktor keselamatan.

 

C.      Tujuan

CEO Talk ini diadakan dengan tujuan menggali pandangan regulator terkait harapan yang ingin dicapai dengan kondisi industri migas saat ini, serta merumuskan bagaimana sebaiknya para pemangku kepentingan, KKKS, Kontraktor EPC dan supplier merespon tantangan dan menciptakan peluang dari penerapan skema gross split tersebut. 

Hasil yang diharapkan dari CEO  Talk ini adalah terjadinya keselarasan antara para pemangku kepentingan dalam menyikapi penerapan Gross Split dalam Kontrak Bagi Hasil Migas dan adanya identifikasi awal faktor-faktor yang mendukung akselerasi industri nasional manufaktur dan EPCI Migas agar dapat tinggal landas memenuhi tantangan keekonomian dan mengubahnya menjadi peluang untuk menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Keynote



Arcandra Tahar, M.Sc, Ph.D
Wakil Menteri ESDM

Sponsor

Exhibition

Dokumen Acara

Nama Keterangan


Pembicara



Arcandra Tahar, M.Sc, Ph.D
Wakil Menteri ESDM


Dr. Ir. Djoko Siswanto
Deputi Pengendalian Pengadaan
SKK Migas


R. Gunung Sardjono Hadi
Direktur Utama Pertamina Hulu Energi
PERTAMINA